1: 2: 3: 4: 5: 6: 7: 8:
Custom Search

24 September 2008

Sulit Dipahami

Dari pengamatan saya terhadap keseharian yang saya temui, saya dapat
menyimpulkan satu hal:
Tuhan memang serba bisa, tapi Dia tidak pintar matematika.
Kesimpulan ini bukan tanpa dasar lho.
Banyak bukti empiris yang mendukung kesimpulan saya ini.
Sebagai seorang "fresh graduate", saya tak mungkin mengharapkan
penghasilan tinggi dalam waktu sekejap.
Terlebih karena saya memegang prinsip bahwa hal yang terpenting dalam
bekerja adalah kepuasan hati.
Saya lebih memilih pekerjaan yang mungkin tak segemerlap pekerjaan yang
dipilih teman-teman seangkatan saya, tapi mampu "memuaskan" idealisme saya.

Saya memang sangat mencintai dan menikmati pekerjaan saya saat ini. Tapi
saat saya berbincang dengan seorang teman yang bekerja di ibukota, ia
mulai membandingkan penghasilan kami (dari sisi finansial tentunya).
Jelas saja saya kalah telak darinya.

Saya sempat jengkel sebentar.
Bagaimana tidak.
Selama bermahasiswa, sepertinya prestasi kami sejajar, bahkan saya lebih
dahulu lulus ketimbang dia.
Tapi kenapa Tuhan tidak menitipkan rejeki yang sama besarnya dengan yang
dititipkan pada teman saya ini?

Tapi, begitu saya merenungkan kembali segala kebaikan Tuhan saya
menemukan satu hal yang luar biasa.
Ternyata penghasilan saya yang tak seberapa itu cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari saya, bahkan untuk mengirim adik ke bangku kuliah.
Padahal logikanya pengeluaran saya per bulannya bisa sampai dua kali
lipat penghasilan saya.
Lalu darimana sisa uang yang saya dapat untuk menutupi kesemuanya itu?
wah, ya dari berbagai sumber.
Tapi saya percaya tanpa campur tangan-Nya, itu semua tidak mungkin.
Nah, ini salah satu alasan mengapa Tuhan tidak pintar matematika.
Lha wong seharusnya neraca saya sudah njomplang kok masih bisa terus hidup.

Bukti kedua adalah kesaksian seorang teman.
Ia mengaku kalau semenjak lajang, penghasilannya tidak jauh berbeda
dengan sekarang.
Anehnya, pada saat ia masih membujang, penghasilannya selalu pas.
Maksudnya, pas akhir bulan pas uangnya habis.
Anehnya, begitu ia berkeluarga dan memiliki anak, dengan penghasilan
yang relatif sama, ia masih bisa menyisihkan uang untuk menabung.

Aneh bukan?
Berarti kalau bagi manusia 1 juta dibagi satu sama dengan 1 juta dan 1
juta dibagi dua sama dengan 500 ribu, tidak demikian bagi Tuhan.
Dari kesaksian teman saya, satu juta dibagi 3 sama dengan satu juta dan
masih sisa.
Betul kan bahwa Tuhan itu tidak pintar matematika?

Ah, saya cuma bercanda kok.
Buat saya, kalau dilihat dari logika manusia
Dia memang tidak pintar matematika.
Mungkin murid saya yang kelas 2 SD lebih pintar dari Dia.
Tapi satu hal yang harus digarisbawahi:
MATEMATIKA TUHAN BEDA DENGAN MATEMATIKA MANUSIA.
Saya tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah sanggup mengetahui
persamaan apa yang digunakan Tuhan.
Tapi kalau boleh saya menggambarkan, ya kira-kira demikian:

X= Y
dimana
X = pemberian Tuhan
Y = kebutuhan

Ya, Tuhan selalu mencukupkan apapun kebutuhan kita.
Tanpa kita minta pun, Dia sudah "menghitung" kebutuhan kita dan
menyediakan semua lewat jalan-jalan- Nya yang terkadang begitu ajaib dan
tak terduga.

Menyadari hal itu, saya bisa menanggapi cerita teman-teman yang "sukses"
dengan penghasilan tinggi di luar kota dengan senyum manis. Soal
penghasilan Tuhan yang mengatur.
Untuk apa saya memusingkan diri dengan berbagai kekhawatiran sementara
Dia telah menghidangkan rejeki di hadapan
saya.
Yang perlu saya lakukan hanyalah melakukan bagian saya yang tak seberapa
ini sebaik mungkin, dan Ia yang akan mencukupkan segala kebutuhan saya

 
©  free template by Blogspot tutorial